Ketika Aku berkunjung ke studio Kak Michelle di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, hujan datang menyambut. Meskipun basah, Kak Michelle menyambut baik kedatangan ku.
Aku pun masuk dengan antusias untuk mewawancarai Michelle Kamto. Pemilik studio Miseneru yang berumur kurang lebih dari satu tahun.
Sembari mengatur kamera dan tripod, kami mengawali percakapan dengan basa-basi dan topik ringan seputar studio Michelle, anjing-anjingnya dan tentu saja celana basahku yang merepotkan. Handuk kering dan air mineral dibawakan seketika hangat menyergap meskipun kedinginan karena kehujanan.
Beberapa menit kemudian setelah peralatan siap, Aku membuka catatan berupa pertanyaan yang sudah disiapkan dari jauh hari. Berlatih sebentar menghindari gugup sambil bercengkrama dan bercanda, Aku pun memulai wawancaraku.
Q: Apakah awalnya Kak Michelle memang bercita-cita dan berniat menjadi seorang nail artist?
A: Tidak pernah bercita-cita menjadi nail artist tapi, Aku sudah familiar dengan nail art dari kecil lewat Ibuku karena beliau suka memakai kutek. Bahkan Aku pernah diam-diam menggunakan kutek yang disimpan di laci oleh Ibuku ke sekolah. Sesampainya di sekolah ada pemeriksaan kuku dan akhirnya kuku yang sudah dipoles tersebut harus dihapus. Sedari kecil memang menyukai pelajaran keterampilan dan kerajinan tangan.
Hingga SMP dan SMA, jika ditanya tentang cita-cita Aku akan jawab “mau jadi pramugari”. Tapi karena banyak keterbatasan dan kekurangan – salah satunya dari mataku yang minus, akhirnya Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan cita-citaku. Lalu setelah kuliah, mengikuti realita yang ada, Aku bekerja sebagai karyawan kantoran. Memutuskan untuk resign setahun yang lalu dan mengikuti kata hatiku sebagai seorang nail artist.
Q: Apakah pernah menyesal untuk keluar dari kantor lama dan bekerja sebagai nail artist?
A: Sama sekali tidak. Stress tentu ada. Kendatipun begitu, stress yang dijalani sebagai seorang nail artist bukan stress berlebihan namun stress in a good way.
Mengenang kembali memori kecilnya, Kak Michelle menceritakan dengan antusias diiringi tawa riangnya.
Q: Kak Michelle bisa tau JS dari mana?
A: Waktu itu hanya follow Instagram JS. Belum ada niatan untuk ikut belajar dan menjadi seorang nail artist.
Q: Kelas apa saja yang diambil di JS dan bagaimana hasil yang sudah didapatkan dari JS?
A: Pada waktu aku mengambil kelas Fundamental Class yang diajarkan oleh Stacy dan Jewelry Class yang diajarkan oleh Ci Vivi. Belajar Russian Manicure, nail structure, dan teknik-tekniknya. Juga mengaplikasikan nail gel yang rata dan rapi. Sedangkan di Jewelry Class belajar cara aplikasi jewelry yang baik dan tahan lama. Dari yang paling mudah hingga yang paling rumit.
Q: Kenapa lebih memilih belajar di JS ketimbang belajar di tempat lain padahal kelas nail art sudah cukup menjamur di Indonesia?
A: Sejujurnya, Aku tidak berniat mengambil kelas di JS tetapi Aku melihat post Instagram JS yang sedang mempromosikan kelas Stacy. Menurutku kapan lagi Aku belajar dengan orang Rusianya secara langsung jika bukan di JS. Dan kebetulan penerjemah Stacy kala itu adalah Ci Vivi. Dan personally, Aku suka cara pembawaan Ci Vivi dalam mengajar karena mudah dipahami dan menjawab pertanyaanku dengan detail. Itulah kenapa Aku memutuskan untuk mengambil Jewelry Class juga.
Q: Apakah ada bagian dari belajar di JS yang memberikan ekspektasi tinggi untuk Kak Michelle? Bagaimana?
A: Aku awalnya tidak berekspektasi tinggi karena Aku termasuk orang yang perfeksionis. Waktu itu, Aku sempat berfikir kelas yang diajarkan mungkin tidak sampai 100%, tapi ternyata Stacy mengajarkan dan mendidik dengan teknik yang paling sempurna supaya pengaplikasian ke klien pun akan sama. Belajar dengan Stacy sangat susah tapi memenuhi harapan Aku sebagai murid. Sementara dengan Ci Vivi belajar lebih santai seperti belajar dengan teman. Ci Vivi mengajarkan teknik yang paling simple sampai yang paling rumit. Dan sangat luwes untuk tanya-jawab dengan Ci Vivi.
Q: Apa ada satu momen yang paling membuat Kak Michelle terkejut atau paling bahagia saat belajar di JS?
A: Tidak ada, sih. Karena memang di JS sangat sibuk belajar. Tapi, ada satu cerita di hari ketiga kelas Stacy. Aku hampir mau menyerah dan menangis. Tidak ingin lanjut lagi karena stress. Hari itu materinya extension polygel. Murid-murid yang lain sudah bisa start di extension sedangkan Aku harus harus mempersiapkan kuku model terlebih dahulu. Sedangkan kuku model ku patah kanan kirinya. Jadi double job. Kebetulan juga hari itu Aku mengerjakan di tangan sebelah kanan sementara murid yang lain mengerjakan di tangan sebelah kiri. Ketika hampir selesai Aku baru sadar bahwa polygel yang digunakan berbeda warna.
Tentunya, model tidak akan pulang dengan kuku yang ‘belang.’ Mau tidak mau Aku harus mengulang lagi dari awal. Dan saat itulah rasa ingin menyerah datang. Tapi, Aku ingat bahwa kelas Stacy mahal dan belum tentu akan ada kesempatan lain buatku belajar dengan Stacy. Aku tentunya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Apalagi mengingat harus kerja keras untuk bisa ikut kelas Stacy. Dan semangat ku kembali lagi.
“Ini bukan sekedar gimmick, tapi belajar di JS memang sebagus itu”
Q: Seberapa lancar tahap implementasi Kak Michelle sebagai seorang nail artist setelah belajar di JS?
A: Semua yang dipelajari di JS sudah diimplementasikan ke klien, meskipun masih banyak yang harus dipelajari dan harus lebih bisa mengimprovisasi lagi dari segi durasi, teknik, kesempurnaan. Jadi, benar-benar membantu sekali kelas yang ada di JS.
Q: Bagaimana pengalaman Ka Michelle mengenai tim JS secara keseluruhan?
A: Sejauh ini semuanya Good Experience. Selama di JS tidak pernah sekalipun mengalami bad experience baik dari educator sampai tim JS yang lain.
Q: Kalau Kak Michelle akan merekomendasikan kursus JS kepada sahabat/kerabat, apa yang akan Kakak katakan?
A: Sangat merekomendasikan kelas Fundamental Russian Manicure karena memang sebagus itu dan akan mendapatkan ilmu yang sesuai dengan harga yang dibayarkan. Memang bisa belajar dari Youtube, tetapi akan sangat banyak sekali ilmu dan teknik yang tidak akan bisa didapatkan secara gratis. Juga kiat-kiat khusus sebagai nail artist di lapangan. Kedua, diajarkan langsung oleh Stacy yang merupakan orang Rusia asli dan berpengalaman. Sementara Ci Vivi, menurutku Specialist sekali di bidang Jewelry. Sesuai dengan apa yang sudah harapkan dan bisa Aku bawa ilmunya untuk menjadi nail artist.
JS memiliki educator yang berpengalaman dan specialist di bidangnya. Sangat direkomendasikan untuk para nail artist di luar sana.
Q: Terakhir, apakah ada pesan untuk tim JS?
A: Thank you to JS and team for the experience!

Aku – Fira – sebagai pewawancara mewakili tim JS, juga berterima kasih atas kesempatannya karena diperbolehkan datang ke studio dan mewawancarai Kak Michelle. Sukses selalu untuk Kak Michelle dan Miseneru! Interview lengkapnya bisa ditonton di Ig @js.nailbar
